Kamis, 06 Juni 2013

PERKEMBANGAN TEKHNOLOGI BIOMETRI DI INDONESIA

Biometrik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Biometrik (berasal dari bahasa Yunani bios yang artinya hidup dan metron yang artinya mengukur) secara umum adalah studi tentang karakteristik biologi yang terukur. Dalam dunia teknologi informasi, biometrik relevan dengan teknologi yang digunakan untuk menganalisa fisik dan kelakuan manusia dalam autentifikasi.
Pengidentifikasi biometrik sangat khas, karakteristik yang terukur digunakan untuk mengidentifikasi individu. Dua kategori pengidentifikasi biometrik meliputi karakteristik fisiologis dan perilaku. Karakteristik fisiologis berhubungan dengan bentuk tubuh, dan termasuk tetapi tidak terbatas pada: sidik jari, pengenalan wajah, DNA, telapak tangan, geometri tangan, pengenalan iris (yang sebagian besar telah diganti retina), dan bau/aroma. Karakteristik perilaku terkait dengan perilaku seseorang, termasuk namun tidak terbatas pada:Ritme mengetik, kiprah, dan suara.

Biometrik di Bidang Kesehatan

Untuk keperluan diagnostik dan pengobatan,studi biometrik diurai menjadi
1. Bahan biometrik adalah bagian-bagian alat dari alat tubuh yang terlihat ataupun sensorik motorik tubuh manusia seperti: sidik jari, tulisan tangan, wajah, struktur rambut dan tulang, pigmentasi kulit, sklera mata, motorik dan sensorik jari, dan lain sebagainya
2. Kode biometrik adalah tanda-tanda spesifik atau unik pada bahan-bahan biometrik seperti garis-garis pada sidik jari, warna pada sklera mata, hambatan pada sensorik motorik dan lain sebagainya.
3. Pengindraan atau membaca kode biometrik adalah metode untuk mengenali atau menerjemahkan berbagai kode biometrik yang ada. teknik
pembacaannya bisa menggunakan indra-indra manusia atau peralatan teknologi. Saat ini bidang kesehatan dan psikologi telah mengembangkan berbagai studi seputar membaca kode biometrik, antara lain:
1. Mengetahui struktur daya tahan tubuh (imuno) melalui lunula kuku ibu jari.
2. Mengetahui struktur ikatan batin (emo) melalui sidik jari cleft 1 dan cleft 2
3. Mengetahui struktur alur imunitas (visera) melalui sidik jari sekitar cleft 1
4. Memahami struktur ritme sefalografi (rileksasi dan stress) melalui cleft kapiler telapak tangan (palmar)
5. Mengetahui pola pertum-buhan tulang (osteo) melalui lingkar ibu jari dan telunjuk
6. Mengetahui kondisi paru-paru dan nafas (pulmonal) melalui ujung jari & kuku
7. Mengetahui kondisi ginjal dan kandung kemih dengan lekukan jari
8. Memahami pola pertumbuhan jaringan tubuh (plasmo) melalui grafologi lingkaran
9. Memahami pola interaksi sosial melalui grafologi sudut kemiringan.
10. Mengetahui potensi psiko-pat dan sosiopat serta struktur ekstra sensoric perception (ESP) melalui Sklera mata, dan lain sebagainya







Teknologi biometrik (sidik jari, iris mata, profil muka) merupakan kunci utama dalam menentukan ketunggalan identitas kependudukan yang didasarkan pada keunikan informasi biometrik seseorang. Di sisi lain, saat ini belum ada industri dalam negeri yang mampu memasok teknologi biometrik untuk keperluan identifikasi maupun verifikasi berbasis sidik jari dan iris berskala besar, seperti yang digunakan dalam program e-KTP. Oleh karena itu, BPPT diharapkan berperan sebagai institusi litbangyasa pemerintah yang melakukan penguasaan teknologi melalui transfer teknologi dari luar negeri ke pelaku teknologi di dalam negeri, mendorong pengembangan dan perekayasaan teknologi biometrik baik di kalangan akademisi maupun industri.

Demikian diungkapkan Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK-BPPT), Hammam Riza, mengenai pentingnya keberadaan Pusat Unggulan Teknologi Biometrik (Pustek Biometrik). Ditambahkannya bahwa kehadiran pusat unggulan ini dinilai penting seiring adanya e-KTP dan rencana pemanfaatannya untuk berbagai kepentingan publik di masa mendatang. “Pustek Biometrik ini sudah dirintis sejak 2013 oleh BPPT, dan diharapkan akan berdiri pada tahun 2014. Pustek biometrik ini sendiri dilatarbelakangi oleh perlunya dukungan penelitian, pengembangan, perekayasaan (litbangyasa) terhadap program e-KTP,” jelas Hammam.
Menurutnya juga, penguasaan teknologi biometrik, baik Automated Fingerprint Recognition(AFIS), iris recognition, face recognition yang dipakai di e-KTP maupun modalitas yang lain seperti DNA, suara, dan sebagainya sangat penting. “Penguasaan teknologi ini diharapkan juga dapat membantu kesinambungan pengelolaan data biometrik e-KTP, maupun pengembangan aplikasi berbasis biometrik dengan memanfaatkan e-KTP,” jelasnya.
Selain it, pusat teknologi biometrik juga dapat melakukan pengukuran dan pengujian terhadap modul biometrik pada berbagai perangkat, terutama e-KTP reader.
BPPT ingin menjalin kolaborasi dengan industri lokal, start-up company, universitas dan berbagai lembaga litbangyasa yang lain agar dapat melaksanakan riset dan pengembangan teknologi biometrik untuk kepentingan nasional. Kehadiran Pustek Biometrik, sebagai bagian dari Pusat Kompetensi Teknologi e-KTP, lanjutnya dapat mendorong kemandirian bangsa di bidang teknologi, khususnya teknologi secure identification, biometric, chip, smartcard dan lain-lain.
Mengenai peluang kerjasama, Chief Engineer e-KTP, Anto S. Nugroho menyatakan bahwa industri dapat bersama-sama dengan Pustek Biometrik untuk mengembangkan seluruh komponen peralatan untuk e-KTP dan berbagai kartu pintar berbasis biometrik. “Hal ini juga akan menyegerakan kehadiran e-KTP sebagai sebuah kartu untuk berbagai fungsi mulai pengendalian subsidi, pemberian bantuan langsung tunai sampai kepada kartu pembayaran elektronik. Semua aplikasi yang dibangun oleh industri (hardware dan software) yang berbasis pada identifikasi biomerik melalui fase penelitian, pengembangan, perekayasaan sampai pengujian dapat dilakukan di Pustek Biometrik,” rincinya.
Diharapkan dengan adanya Pustek Biometrik maka Indonesia mampu secara mandiri memanfaatkan teknologi identifikasi sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). (SYRA/humas)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar